Minggu, 03 Januari 2016

Masa Kemurnian Islam (Masa Rasulullah)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan islam diera sekarang boleh dikatakan gemilang, hal ini tidak lepas dari dasar-dasar islam pada awal periodenya, yaitu era Nabi Muhammad SAW. Sesuai dengan kalimat awal yang baik melahirkan akhir yang baik pula, dimulai dengan turunnya wahyu pertama digua hiro’ awal gong perjalanan islam ditabuh. Sejak itulah norma-norma kemanusiaan yang dibawah bimbingan wahyu menerobos arogansi kultur jahiliyah yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dengan seruan agama tauhid (monotheisme) yang gaungnya menggetarkan seluruh jazirah arab, maka fitrah dan nilai kemanusiaan ditempatkan pada hakikat sebenarnya. Seruan agama tauhid inilah yang merubah eajah masyarakat jahiliyah menuju ketatanan masyarakat yang harmonis, dinamis, dibawah bimbingan wahyu.
Kemudian hijrah Rasulullah ke madinah merupakan momen kecermelangan islam dimasa yang akan datang. Dalam waktu yang relatif singkat Rasulullah berhasil membina dan mendirikan masjid, dan membuat perjanjian kerjasama dengan non muslim, serta meletakkan dasar-dasar politik, sosial, ekonomi bagi masyarakat baru tersebut. Fenomena menakjubkan ahli-ahli sejarah dahulu dan sekarang adalah suatu kenyataan bahwa misi kerasulan Muhammad yang semakin nampak nyata menggoyahkan kedudukan makkah dan menjadikan orang-orang Quraisy makkah semakin bergetar. Masyarakat madinah yang berhasil dibentuk Rasulullah oleh sebagian intelektual muslim masa kini disebut dengan negara kota (city states) lalu dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh jazirah arab yang masuk islam maka muncullah sosok negara bangsa (nation states). Walaupun sejak awal islam tidak memberikan ketentuan yang pasti tentang bagaimana bentuk dan konsep negara yang dikehendaki, namun suatu kenyataan bahwa islam adalah agama yang mengandung prinsip-prinsip dasar kehidupan termasuk politik dan negara.

B.     Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang diatas kita bisa merumuskan beberapa masalah yaitu:
a.       Bagaimana Kelahiran Nabi Muhammad?
b.      Bagaimana Masa Kemurnian Islam?
c.       Tahapan Dakwah Nabi?
d.      Bagaimana gambaran lima pokok syariat yang disampaikan nabi kepada ummat?


C.     Tujuan Penulisan
a.       Mengetahui dan memahami sejarah kelahiran Nabi Muhammad
b.      Memahami masa kemurnian islam
c.       Mengetahui dan memahami tahapan dakwah Nabi
d.      Memahami lima pokok syari’at yang dibawa Nabi



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Lahirnya Sang Pembawa Risalah
Disaat manusia terpuruk dalam kegelapan dan tidak mempunyai pegangan hidup, lahirlah bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi peradaban manusia. Bayi itu bernama Muhammad bin Abdullah. Nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah bin abdul mutholib (syaibatul hamdi) bin hisyam bin Abdi manaf (al-Mughiroh) bin Qushoyyi (zaid) bin kilab bin murroh bin ka’ab bin lu’ay bin gholib bin fihri bin malik bin annadhar bin kinanah bin khuzaimah bin mudrikah bin ilyas bin mudhar bin nazar bin mu’iddu bin adnan, itulah nasab Rasulullah yang disepakati.
Nabi Muhammad Saw. dilahirkan pada tahun gajah 12 Rabi’ul awwal atau tanggal 20 April 571 M. Ayahnya Abdullah meninggal ketika Nabi Muhammad masih dalam kandungan ibunya yang beruumur 2 bulan. Kemudian beliau diasuh kakeknya dan disusuhkannya. Sudah menjadi kebiasaan orang arab kota makkah terutama kaum bangsawan menyusukan dan menitipkan bayi mereka pada wanita badiyah, agar bayinya menghirup hawa yang bersih, terhindar dari penyakit-penyakit kota dan agar beyi itu dapat berbicara dengan bahasa yang murni dan fasih. Demikian juga dengan Nabi Muhammad yang ditipkan pada wanita yang bernama Haliamah Sa’diyah dari Bani Sa’ad ditempat itu Nabi dibesarkan sampai berumur 5 tahun. Kemudian Nabi dikembalikan lagi ke Ibunya di makkah. Setahun kemudian ketika Nabi berumur 6 tahun ibunya Aminah meninggal ketika dalam perjalanan pulang dari menziarahi makam suaminya. Setelah itu Nabi dalam asuhan kakeknya yang bernama Abdul mutholib, namun setelah Nabi genap berusia 8 tahun kakeknya meninggal. Sesuai wasiat kakeknya Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Tholib. Abu Tholib adalah pedagang yang memperdagangkan dagangan wanita saudagar kaya bernama Khodijah. Pada umur 12 tahun Nabi mengikuti pamannya  untuk berdagang ke Syam. Sampai dikota Basyra bertemulah Abu Tholib dengan Pendeta Nasrani bernama Buhaira, pendeta itu melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, dan menasehati Abu Tholib agar menjaga Muhammad dengan baik dan segera kembali ke makkah karenan pendeta itu khawatir kelak Nabi Muhammad ditemukan oleh orang-orang Jahiliyah yang pasti akan menyakitinya. Mendengar itu Abu Tholib segera menyelesaikan dagangannya dan kembali ke makkah. Genap berusia 25 tahun Nabi menikah dengan Khadijah dan dari Khadijah Nabi mendapatkan keturunan, nabi dikaruniai 7 anak, 3 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Mereka adalah Sayid Qosim yang wafat ketika keil, Sayidah Zainab, Ruqoyyah, Fatimah, Umi Kultsum, sayid Abdullah dan sayid Ibrahim. Sayid ibrahim ini dari istri Nabi yang bernama Mariyah Al-Qibtiyah. Ketiga putra Nabi meninggal  ketika masih kecil hal itu sebagai pertanda gelar Khotamman Nabiyyin (Nabi Terakhir). Nabi Muhammad lebih sering beribadah dan berhalwat di gua hira hingga tiba waktunya pada umur 40 tahun beliau dinobatkan sebagai Rasulullah atau Utusan Allah SWT. kepada seluruh ummat manusia untuk menyempurnakan Risalah-Nya.

B.     Masa Kemurnian Islam
Masa kemurnian islam adalah masa dimana seluruh tata komando baik itu ibadah, muamalah, dan sebagainya pembimbingnya adalah wahyu. Allah SWT. berfirman yang artinya “dahulu manusia  itu adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan) maka Allah SWT mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan dan Allah SWT. menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan” (Q.S Al-Baqoroh ayat 23).
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Ibnu Abbas berkata : antara Nuh dan Adam ada 10 kurun / generasi. Mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang dulu sejak zaman Adam sampai Nuh semuanya berpegang pada syariat Allah Swt. yang murni, kemudian terjadi perselisihan diantara mereka lalu Allah Swt. mengutus para Rasul untuk mengembalikan penyimpangan umat manusia pada kebenaran dan kemurnian. Rasulullahpun hanya mengikuti dan mendakwahkan apa yang diwahyukan Allah.

Masa Kemurnian Islam terbagi menjadi 2 Periode yaitu:
a.       Periode Makkah
Bangsa arab adalah anak-anak Ismail As. karena itu mereka mewarisi millah dan minhaj yang pernah dibawa oleh bapak mereka. Millah dan minhaj yang menyerukan tauhid Allah beribadah kepada Allah Swt. mematuhi hukum-hukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya khususnya baitul Harram, menghormati syiar-syiar-Nya dan mempertahankannya. Namun dalam beberapa kurun waktu mereka mulai mempercampur adukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka seperti semua umat dan bangsa apabila telah dikkuasai kebodohan dan dimasuki tukang sihir dan ahli kebatilan maka masuklah kemusyrikan kepada mereka, mereka kembali menyembah berhala-berhala. Tradisi buruk dan keburukan moral menyebar akhirnya diutuslah Nabi Muhammad oleh Allah untuk mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan mereka dan menyempurnakan akhlak mereka.
Menurut Prof. DR. HM. Quraish Shihab MA. ada faktor lain selain faktor jahiliyahnya bangsa Arab pada waktu itu melainkan karena Makkah merupakan pusat Hijaz yaitu pusat bertemunya para khalifah selatan, utara, timur dan barat, hal ini memudahkan penyebaran pesan. Ketika islam hadir di Makkah dapatlah kita baca dalam beberapa literatur bahwa periode makkah bercirikan ajaran tauhid. Ajaran yang dibawa Nabi muhammad mendapatkan penolakkan keras dari penduduk makkah bukan hanya dikarenakan persoalan teologis semata, juga seruan islam akan keadilan sosial, perhatian pada nasib anak yatim, fakir miskin, dan pembebasan budak serta ajaran islam akan persamaan derajat. Bagi mereka agama ini tidak hanya merusak ideologi dan teologi mereka tetapi juga merombak kehidupan sosial mereka.
Masyarakat Islam pada kurun makkah belum tercipta sebagai sebuah komuitas yang mandiri dan bebas dari urusan klan, dan agama islam pada kurun makkah bercirikan ajaran tauhid.

b.      Periode Madinah
Periode madinah terbentuk akibat desakkan kaum quroisy makkah kepada kaum muslimin. Hijrah kemadinah tidaklah terwujud begitu saja ada beberapa pra kondisi seperti bai’at aqobah satu dan dua. Kedua bai’at  ini merupakan batu lonjatan pertama bagi bangunan negara islam. Pada Waktu itu madinah ditempati beberapa komunitas yang berbeda-beda diantaranya :
1.      Kaum muslimin yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshor
2.      Suku Aus dan Khazraj
3.      Kaum Yahudi terbagi dalam 3 suku utama yaitu : Bani Qoinuqu, bani nadhir, dan bani Quraizha.
Kemajukan komunitas tersebut tentu saja melahirkan  confilet dan tension termasuk pertentangan suku aus dan khazraj yang sudah berlangsung lama dan ini yang mendorong Rosul melakukan negoisasi dan konsolidasi melalui perjanjian tertulis yang terkenal dengan “piagam madinah”. Piagam madinah merupakan rangkaian penting dari proses berdirinya negara madinah. Dilihat dari segi politik objek yang dipimpin Nabi memenuhi syarat untuk disebut sebagai negara. Sejarah berdirinya negara ialah: adanya wilayah, penduduk, dan pemerintah yang berdaulat. 
Pada periode Madinah ajaran islam merupakan kelanjutan dari periode makkah, bila periode makkah ayat tentang hukum belum banyak diturunkan maka pada periode madinah kita mendapati ayat hukum mulai turun melengkapi ayat yang telah ada sebelumnya. Pada periode madinah ajaran islam mendekati titik sempurna dan mencapai puncaknya. Setelah Nabi wafat dimulailah era khulafaurrasyidin, tidak dapat dipungkiri dimadinah ini islam sempurna dan disinilah awal sebuah peradaban yang dibangun oleh umat islam mulai tercipta.

C.     Tahapan Dakwah Nabi
Kehidupan Rosulullah setelah beliau dimuliakan Allah dengan nubuwwah dan risalah terbagi menjadi 2 periode yaitu :
-          Periode makkah
Berlangsung selama kurang lebih 13 tahun
-          Periode Madinah
Berlangsung selama 10 tahun

a.       Periode Makkah
Dalam dakwah Nabi pada periode makkah dan madinah mempunyai karakteristik tersendiri sehingga tampak jelas strategi-strategi yang dimunculkan dalam menyampaikan risalah.

Pada periode makkah dapat dibagi menjadi 2 tahapan yaitu :
1.      Dakwah Sirriyah (sembunyi-sembunyi)
Setelah mendapat wahyu dari Allah Nabi Muhammad mulai mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala. Pada awalnya Nabi Muhammad berdakwah secara rahasia untuk menghindari tindakan buruk orang-orang quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan penganismenya. Nabi tidak menampakkan dakwahnya di majelis-majelis umum orang quraisy kecuali kepada orang yang memiliki hubungan kerabat/ kenal baik sebelumnya dengan Nabi.
Orang-orang yang pertama masuk islam ialah Khadijah binti khuwalid, Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Haritsah, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lainnya. Mereka bertemu dengan Nabi secara rahasia, apabila salah seorang diantara mereka ingin melaksanakan salah satu ibadah ia pergi kelorong-lorong makkah seraya bersembunyi dari pandangan orang quraisy. Ketika orang-orang yang menganut islam lebih dari 30 laki-laki dan wanita Rasulullah memilih rumah Al-Arqom bin Abil Arqom sebagai tempat pertama untuk mengadakan pembinaan dan pengajaran. Dakwah dalam tahap iini menghasilkan sekitar 40 laki-laki dan wanita penganut islam. Kebanyakan mereka adalah orang-orang fakir, kaum budak dan orang-orang quraisy yang telah memiliki kedudukan.

2.      Dakwah secara terang-terangan
Tiga tahun lamanya Rasulullah melakukan dakwah secara rahasia kemudian turunlah firman Allah yang memerintahkan dakwah secara terang-terangan. Pertama kali seruan bersifat umum ini beliau tujukan kepada kerabatnya, kemudian penduduk makkah baik golongan bangsawan, hartawan maupun hamba sahaya. Setelah itu pada kabilah-kabilah arab dari berbagai daerah yang datang ke makkah untuk mengerjakan haji. Sehingga lambat laun banyak oarang Arab yang masuk islam, akan tetapi kebanyakan orang kafir quraisy di makkah menentang ajaran Nabi Muhammad tersebut.
Pemimpin Quraisy yang tidak suka bila agama Islam menjadi besar dan kuat berusaha untuk menghalangi dakwah nabi dengan melakukan penyiksaan-penyiksaan terhadap orang mukmin. Banyak hal yang dilakukan para pemimpin quraisy untuk mencegah dakwah nabi akan tetapi berkali-kali usahanya gagal. Ditengah sengitnya kekejaman itu dua orang kuat quraisy masuk islam yaitu Hamzah dan Umar bin Khattab sehingga memperkuat posisi umat islam. Hal ini membuat orang kafir Quraisy berekasi sangat keras dengan melakukan pemboikotan terutama pada Bani Hasyim. Mereka memutuskan segala bentuk hubungan dengan suku ini. Akibatnya Bani Hasyim mengalami kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang tiada bandingnya. Hal ini terjadi selama 3 tahun yang merupakan tindakan paling menyiksa dan melemahkan umat islam.
Pemboikotan ini berhenti setelah para pemimpin Quraisy sadar terhadap tindakan mereka yang terlalu. Namun selang beberapa waktu Abu Tholib meninggal, tiga hari kemudian istrinya Siti Khadijah pun wafat. Tahun itu merupakan tahun kesedihan bagi Nabi (Amul Huzni). Sepeninggal dua orang pendukung Nabi tersebut kaum Quraisy tak segan-segan melampiaskan amarahnya. Karena kaum Quraisy tersebut Nabi berusaha menyebarkan Islam keluar kota, namun nabi malah diejek, disorak bahkan dilempari batu hingga terluka dibagian kepala dan badan.

Cara-cara yang dilakukan orang Quraisy dalam melancarkan permusuhan terhadap Rasulullah SAW dan pengikutnya yaitu :
1.      Mengejek, menghina, dan menertawakan orang-orang muslim dengan maksud melecehkan kaum muslim.
2.      Mengejek ajaran Nabi, membangkitkan keraguan, menyebarkan anggapan-anggapan yang menghasilkan ajaran Nabi
3.      Melawan Al-quran dengan dongeng-dongeng orang-orang terdahulu
4.      Menyodorkan beberapa tawaran pada orang islam yang mau menukar keimanannya dengan kepercayaan orang kafir quraisy.
5.      Menganiaya, menyiksa bahkan membunuh orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW.

b.      Periode Madinah
Ketika tekanan dan siksaan orang quraisy semakin bertambah, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin berhijrah ke Madinah. Hijrah tersebut dilakukan secara sembunyi. Sedangkan beliau berangkat bersama Abu Bakar setelah kaum muslimin tiba di Madinah, beliau disambut dengan syair-syair dan penuh kegembiraan oleh penduduk Madinah.

Dalam periode Madinah Rasulullah SAW berdakwah dengan berbagai usaha diantaranya :
1.      Mendirikan Masjid
Setelah agama islam datang Rasulullah SAW mempersatukan suku-suku dimadinah dengan mendirikan tempat peribadatan dan pertemuan berupa masjid yang diberi nama masjid “Baitullah”. Masjid itu dibangun sebagai tempat peribadatan, pertemuan, mengadili suatu perkara, dan lain sebagainya.
2.      Mempersaudarakan antara Anshor dan Muhajirin
Orang-orang muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta akan tetapi membawa keyakinan. Dengan demikian Rasulullah mempersatukan golongan Anshor dan Muhajirin dalam suatu persaudaraan dibawah satu keyakinan yaitu Islam.
3.      Perjanjian bantu membantu antara sesama kaum muslim dan non muslim
Setelah Nabi resmi masuk Madinah, Nabi langsung mengadakan perjanjian untuk saling membantu atau toleransi antara orang Islam dan Non Islam. Selain itu Nabi juga mengadakan perjanjian yang berbunyi “Kebebasan beragama terjamin buat semua orang di Madinah”
4.      Melaksanakan dasar politik, ekonomi, dan sosial untuk masyarakat baru
Islam tidak hanya mengajarkan bidang akidah dan ibadah, tetapi hanya mengajarkan juga bidang politik, ekonomi, dan sosial, yang bersumber pada Al-Quran dan Hadist. Sebagai kepala negara Rasulullah telah meletakkan dasar bagi setiap sistem politik islam yakni Musyawarah.

D.    Lima Pokok Syari’at yang disampaikan Nabi ke ummat
1.      Al-Uluhiyah
Uluhiyah adalah ajaran tentang etika dan mengEsakan Allah SWT, tauhid seperti sifat-sifat Allah, dll.
2.      Al-Ubudiyah
Ubudiyah adalah ajaran tentang maslah beribadah menyembah kepada Allah SWT seperti Rukun dan Syarat Sholat, puasa dan ibadah lainnya.
3.      Al-Muamalah
Muamalah berkisar mengatur tatanan masyarakat seperti jual-beli, sewa menyewa, dan berniaga.
4.      Al-Munakahah
Munakahah adalah hukum-hukum yang berisi tentang pernikahan, waris-mewaris.
5.      Al-Jinayat

Jinayat adalah hukum yang berkaitan dengan pidana seperti pembunuhan, pencurian, dll.


Pengelolaan teknologi pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Teknologi adalah perkembangan alat bantu untuk memudahkan pekerjaan manusia. Teknologi juga sebagai alat untuk pemanfaatan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Teknologi memasuki berbagai bidang dalam kehidupan manusia untuk meningkatkan efektifitas suatu produksi ataupun kegiatan untuk penggunanya. Dunia pendidikan tidak luput dari integrasi teknologi dalam rangka efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Teknologi dalam bidang pendidikan juga harus dapat dikembangkan dengan baik demi terwujudnya kehidupan bangsa yang cerdas yang tertuang dalam UUD 1945. Pemanfaatan teknologi pendidikan serta media pendidikan sangat diperlukan dalam meningkatkan kegiatan belajar mengajar.
Teknologi pendidikan perlu di kelola dan diterapkan disetiap pembelajaran dikelas terutama dalam pendidikan agama islam. Dalam hal ini perlu adanya pengelolaan yang baik. Kegiatan mengelola merupakan salah satu fondasi dari teknologi pendidikan. Hal ini sesuai dengan pengertian teknologi pendidikan, yaitu “Studi dan praktek etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan menggunakan, dan mengelola proses dan sumber daya teknologi yang tepat. Kegiatan mengelola berkaitan dengan mendayagunakan sumber daya teknologi yang ada ke dalam proses pembelajaran yang tepat. Kegiatan pengelolaan meliputi berbagai fungsi yang saling berkaitan satu sama lain.
Fungsi pengelolaan yang dilaksanakan dalam kegiatan pengelolaan dapat mempermudah dalam pencapaian tujuan suatu kegiatan. Adanya pengelolaan yang baik teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam penerapannya pada pembelajaran dikelas.



B.     Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1.      Apa pengertian pengelolaan?
2.      Apa saja kawasan pengelolaan dalam teknologi Pendidikan?
3.      Bagaimana penerapan teknologi pendidikan dalam pendidikan agama islam?

C.     Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1.      Untuk mengetahui definisi pengelolaan
2.      Mengetahui apa saja kawasan pengelolaan
3.      Serta mampu menerapkan teknologi pendidikan dalam pembelajaran PAI



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pengelolaan
Definisi teknologi pendidikan mengalami perkembangan dari masa ke masa. Association for Educational Communications and Technology mendefinisikan teknologi pendidikan sebagai, cabang dari teori dan praktek pendidikan yang berkepentingan dengan mendesain dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar (1963). Definisi lain dari teknologi pendidikan pada tahun 1977 adalah, “Proses kompleks yang terintegrasi meliputi; orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia” (AECT, 1977 :1). Kemudian pada tahun 1994 AECT (1994) memperbarui definisi teknologi pendidikan menjadi teori dan praktek tentang rancangan, pengembangan, penggunaan, pengelolaaan dan pengevaluasian dari suatu proses dan sumber-sumber untuk belajar (Seels & Richey, 1994 :1). Dan perkembangan definisi teknologi pendidikan paling mutakhir oleh AECT (2004) yang mendefinisikan teknologi pendidikan sebagai studi dan praktek etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan menggunakan, dan mengelola proses dan sumber daya teknologi yang tepat (Januszewski & Molenda, 2008 : 1). Dari berbagai pengertian tersebut, dapat dilihat jika salah satu landasan dari teknologi pendidikan adalah kegiatan pengelolaan. Kegiatan pengelolaan berkaitan erat dengan proses dan sumber untuk menghasilkan output yang direncanakan.
Kegiatan mengelola yang sering dikenal dengan istilah managing/manajemen memiliki berbagai definisi sesuai dengan bidang kajiannya serta proses aplikasinya. Manajemen dalam arti luas memiliki arti proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha–usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan (Stoner, 1982). Sedangkan menurut Gulick,   “Manajemen merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerja sama yang lebih bermanfaat (1965 :14). Handoko mendefinisikan manajemen sebagai bekerja dengan orang–orang untuk menentukan, menginterpretasikan, dan mencapai tujuan organisasi dengan melaksanakan fungsi–fungsi perencanaan, pengorganisasian, personalia, pengarahan, kepemimpinan dan pengawasan (2003).
Atas dasar berbagai definisi tersebut dapat kita ambil kesimpulan jika manajemen merupakan suatu proses kerja sama antara sekelompok orang dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dengan melaksanakan fungsi – fungsi manajemen. Manajemen yang baik akan mendorong keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Karena dalam manajemen terdapat fungsi – fungsi yang harus dilaksanakan. Fungsi manajemen ini yang akan mendorong kegiatan berjalan dengan baik. Pengelolaan telah menjadi bagian dalam teknologi pendidikan sejak tahun 1920. Dalam Januszewski & Molenda (2008), pernyataan definisi formal pertama, mengelola dipandang perlu untuk mengendalikan produk dan proses yang digunakan di lapangan (Ely. 1963). Dilihat dari sudut pandang pendekatan sistem mengelola dipandang sebagai sistem berpikir secara lebih luas mengenai  proses manajemen dalam pengembangan pembelajaran dan sistem pembelajaran berbasis teknologi (AECT, 1977) mengikuti teori yang dikemukakan oleh Heinich (1970). Pada tahun 1994 pengelolaan dalam teknologi pendidikan didefinisikan sebagai berikut, “Kegiatan perencanaan, koordinasi, pengorganisasian, dan pengawasan sumber daya, informasi, dan sistem pengiriman dalam konteks pengelolaan desain pembelajaran” (Seels & Richey, 1994 :54).
Mengelola pada teknologi pendidikan fokus kepada konsep dan prinsip yang berkaitan dengan mengelola proses teknologi yang tepat dan sumber daya yang ada. Teknologi pendidikan bertindak sebagai desainer kegiatan pembelajaran, spesialis media sekolah, konsultan pembelajaran, menangani masalah manajemen profesional dan sebagainya. Teknologi pendidikan bekerja dengan sumber daya yang terbatas dalam waktu yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dengan mengelola proses dan mendayagunakan sumber daya yang tersedia. Proses berkaitan dengan desain pembelajaran yang direncanakan, sedangkan sumber belajar bisa berupa koleksi bahan ajar. Kegiataan pengelolaan meliputi mendesain model pembelajaran yang paling dan relevan, memilih alat dan media yang tepat,  memilih orang yang terampil dan mengendalikan setiap proses kegiatan pembelajaran / pendidikan secara tepat.

B.     Kawasan Pengelolaan
Konsep pengelolaan merupakan bagian integral dalam bidang teknologi pembelajaran dan dari peran kebanyakan para teknolog pembelajaran. Banyak teknolog pembelajaran memegang jabatan yang jelas-jelas memerlukan fungsi pengelolaan. Misalnya, seorang ahli yang bertugas sebagai ahli media pada sebuah sekolah/Perguruan Tinggi. Orang ini bertanggung jawab atas keseluruhan program pusat media tersebut. Program-program yang dilakukan oleh mereka itu dapat sangat berbeda, akan tetapi keterampilan dasar yang diperlukan untuk mengelola program tersebut tetap sama. Keterampilan yang dimaksud meliputi pengorganisasian program, supervisi personil, perencanaan, pengadministrasian dana dan fasilitas, serta pelaksanaan perubahan.
Pengelolaan meliputi pengendalian teknologi pembelajaran melalui: perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi (Seels. & Richey, 2000:54). Kawasan pengelolaan bermula dari aministrasi pusat media, program media, dan pelayanan pemanfaatan media. Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan noncetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumber-sumber teknologi dalam kurikulum.
Oleh karena itu, kawasan pengelolaan mencakup 4 hal yaitu:
1.      Pengelolaan Proyek
Pengelolaan Proyek meliputi: perencanaan, monitoring, dan pengendalian proyek desain dan pengembangan (Seels & Richey, 2000:55).
Para pengelola proyek bertanggung jawab atas perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian fungsi desain pembelajaran atau jenis-jenis proyek yang lain. Peran pengelola proyek biasanya berhubungan dengan cara mengatasi ancaman proyek dan memberi saran perubahan internal.
Mengelola proyek adalah fungsi pengelolaan yang dipahami dalam bidang teknologi pendidikan. Manajemen proyek dipraktekkan untuk memastikan bahwa suatu proyek diskrit, dapat mencapai suatu hasil tertentu, selesai tepat waktu, sesuai anggaran, dan spesifikasi klien. Dalam teknologi pendidikan, mengelola proyek umumnya berkaitan dengan desain dan pengembangan bahan ajar dan sistem pembelajaran. Mengelola proyek dibutuhkan ketika produksi media dan proses pengembangan pembelajaran menjadi lebih kompleks dan dalam skala besar. Mengelola proyek akan menghasilkan manfaat seperti menghemat sumber daya organisasi,meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kemungkinan bahwa proyek akan berhasil.

2.      Pengelolaan Sumber
Pengelolaan sumber mencakup perencanaan pemantauan dan pengendalian sistem pendukung dan pelayanan sumber (Seels & Richey, 2000: 55). Pengelolaan sumber memiliki arti penting karena mengatur pengendalian akses. Pengertian sumber dapat mencakup, personel keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas dan sumber pembelajaran. Sumber pembelajaran mencakup semua teknologi yang telah dijelaskan pada kawasan pengembangan. Efektivitas biaya dan justifikasi belajar yang efektif merupakan dua karakteristik penting dan pengelolaan sumber.
Mengelola sumber daya berkaitan erat dengan pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi. Pada tahun 1994 definisi sebelumnya, pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi merupakan bagian pengelolaan yang dilaksanakan oleh kawasan pengelolaan. Pada definisi terbaru tahun 2004, menyatukan pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi menjadi satu bagian dengan kegiatan mengelola sumber daya. Pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi termasuk didalamnya kombinasi dari media dan metode penggunaan yang digunakan untuk menyajikan informasi                                  pembelajaran bagi siswa. Contoh dari pengelolaan sistem penyampaian adalah terselenggarakannya pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka.
Mengelola sumber daya juga mencakup pengelolaan sumber teknologi informasi yang dipraktekkan untuk memastikan bahwa teknologi infrastruktur organisasi benar disesuaikan dengan kebutuhan organisasi itu dan tetap up to date dengan biaya yang masuk akal. Sekolah dan organisasi media center juga membutuhkan tingkat pengelolaan. Koleksi, yang merupakan komponen utama dari fasilitas, membutuhkan pemantauan terus-menerus dan perlu diperbarui. Ruang fisik yang sebenarnya harus diatur baik secara fungsional dan menarik. Sumber daya ini terus-menerus diperbarui dan ditingkatkan sesuai dengan anggaran yang dimiliki oleh organisasi.

3.      Pengelolaan Kinerja Orang
Proyek dan program apapun membutuhkan orang yang tepat untuk memastikan kesuksesan penyelesaian proyek dan program tersebut. Pengelolaan personalia memastikan bahwa ada orang dengan keterampilan yang tepat untuk melakukan pekerjaan pada waktu yang tepat dan untuk biaya terendah sesuai dengan sumber daya yang diperlukan. Manajemen efektif akan menghasilkan orang–orang yang bekerja secara efektif. Pengelolaan personalia dan pengelolaan proyek memiliki hubungan yang erat. Mengelola proyek akan menghasilkan orang–orang yang tepat untuk mengerjakan proyek tersebut. Menetapkan anggota tim proyek yang berkualifikasi dengan biaya serendah mungkin merupakan hal yang sulit dan membutuhkan waktu lama. Manajemen personalia harus memastikan bahwa orang yang menangani tugas tertentu adalah orang yang tepat.
Dalam banyak kasus, spesialis media sekolah bertanggung jawab untuk memilih staf profesional dan mengatur media center. Umumnya staf profesional bekerja terpisah dengan spesialis media sehingga dibutuhkan kegiatan pengelolaan kinerja. Sebagai manajer personalia, spesialis media harus mengidentifikasi individu yang berkualitas, mengawasi kinerja, membantu staf dalam pengembangan profesional berkelanjutan, dan memotivasi staf untuk terlibat dalam kualitas layanan.

4.      Pengelolaan Program
Terkadang sulit untuk membedakan antara mengelola proyek dan mengelola program. Program didorong oleh misi, memiliki jangka waktu lebih lama, bersifat luas dan biasanya mengandung beberapa proyek. Proyek didorong oleh spesifikasi, memiliki batas waktu terbatas, dan menghasilkan suatu produk, kemasan, atau jasa. Mengelola proyek melibatkan usaha jangka pendek tanpa otoritas jangka panjang, sementara mengelola program merupakan usaha jangka panjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan tujuan organisasi.
Didalam pengelolaan program seorang manajer harus harus bisa melakukan evaluasi. Hai ini diperlukan untuk memastikan bahwa program telah terlaksana dengan baik, sesuai dengan biaya dan spesifikasi yang telah ditentukan. Melalui kegiatan evaluasi dapat diperoleh laporan kemajuan dan mengidentifikasi masalah yang dihadapi saat implementasi pengelolaan. Dengan demikian evaluasi turut membantu dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat saat proses perencanaan selanjutnya.

C.     Penerapan Teknologi pada Pendidikan Agama Islam
Penggunaan teknologi sangatlah bermanfaat dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Karena pendidikan Islam merupakan sub sistem Pendidikan Nasional Indonesia. Perjalanan Pendidikan Islam tidak terlepas dari pasang surutnya sistem Pendidikan Nasional itu sendiri, sebagaimana tidak terlepasnya umat Islam ketika kita membicarakan nasib bangsa ini, dan bahkan Pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang di Indonesia yang telah ikut mewarnai kehidupan bangsa ini baik masa sebelum penjajahan bahkan setelah Indonesia merdeka.
Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah, maupun para pakar pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan tak terkecuali Pendidikan Islam sudah dilakukan sejak lama namun hasil yang dicapai belumlah maksimal. Upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan masih bersifat parsial, terkotak-kotak dan tidak komprehensif. Sehingga wajar apabila output peserta didik dari pendidikan Islam kurang memberikan hasil yang maksimal baik terhadap peserta didik, orang tua, maupun masyarakat.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini maka teknologi pendidikan dalam pendidikan Islam juga diterapkan, agar dapat mendukung pendidikan Islam itu sendiri. Penggunanaan teknologi dalam praktek pendidikan Islam harus juga melihat situasi dan kondisi dimana teknologi pendidikan itu akan digunakan dalam praktek pendidikan Islam.
Jangan salah mengartikan bahwa teknologi pendidikan tidak hanya berhubungan dengan peralatan teknik dan media yang dipakai dalam pendidikan, seperti: overhead, projector, televise, slide projector, audio tape, rekaman video dan sebagainya. Teknologi pendidikan memiliki arti yang lebih luas dari penjelasan di atas, teknologi pendidikan dapat didefinisikan pengembangan, penerapan dan evaluasi sistem, teknik dan alat untuk tujuan meningkatkan proses belajar mengajar bagi manusia. Jadi dalam prakteknya teknologi pendidikan dalam pendidikan bukan hanya penggunaan alat-alat elektronik dalam pembelajaran di kelas tetapi di luar itu teknologi pendidikan juga memiliki peran penting. Misalnya dalam prakteknya teknologi pendidikan dalam pendidikan Islam, perumusan tujuan pendidikan didasarkan pada nilai-nilai keIslaman dengan memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji al-Qur’an, salat malam, saum (puasa) sunnah. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari. Proses penetapan tujuan untuk menghasilkan akhlak yang baik sampai proses untuk membentuk dan melatih akhlak tersebut merupakan proses dalam teknologi pendidikan.
Dengan adanya teknologi pendidikan, akan muncul kecenderungan-kecenderungan, sebagai berikut
1.  Terjadinya arah gradual ke arah pendekatan belajar yang lebih berpusat terhadap peserta didik (student centered approach learning). Perubahan ini ditandai oleh semakin bertambahnya penggunaan media belajar yang diindividualisasikan.
2.  Pertambahan secara eksplosif penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara praktis dalam semua aspek pendidikan.

Hasil penelitian secara nyata membuktikan bahwa penggunaan alat bantu sangat membantu aktifitas proses belajar mengajar di kelas, terutama peningkatan prestasi belajar siswa. Pemanfaatan teknologi pendidikan sangat diperlukan dalam rangka pengembangan kemajuan pendidikan nasional. Karena penggunaan teknologi pendidikan melalui pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional dengan demikian tujuan pendidikan akan berjalan secara efektif dan efisien.
Aplikasi teknologi pendidikan sangat relevan bagi pengelolaan pendidikan pada umumnya dan kegiatan belajar mengajar pada khususnya. Aplikasi yang dimaksud adalah yang tersebut di bawah ini :
1.      Teknologi pendidikan memungkinkan adanya perubahan kurikulum, baik strategi, pengembangan, maupun aplikasinya. Teknologi pendidikan mempunyai fungsi luas, tidak hanya pada kebutuhan kegiatan belajar mengajar di kelas, melainkan dapat berfungsi sebagai masukan bagi pembinaan dan pengembangan kurikulum yang dikaji secara ilmiah, logis, sistematis, dan rasional sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.      Teknologi pendidikan menghilangkan, kalaupun tidak secara keseluruhan, pola pengajaran tradisional. Ia berperan penuh dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, meskipun sebenarnya dia tidak dapat menggantikan posisi guru secara mutlak. Guru mempunyai kemampuan yang terbatas dan dengan teknologi pendidikan pulalah keterbatasan itu tertolong.
3.      Teknologi pendidikan membuat pengertian kegiatan belajar menjadi lebih luas, lebih dari hanya sekedar interaksi guru dengan murid di dalam ruang dan waktu yang sangat terbatas. Teknologi pendidikan dapat dianggap sebagai sumber belajar, dan biasanya memberikan rangsangan positif dalam proses pendidikan.
4.      Aplikasi teknologi pendidikan dapat membuat peran guru berkurang, meskipun teknologi pendidikan tidak dapat menggantikan peran guru secara penuh. Teknologi pendidikan adalah guru. Meskipun demikian bagi guru dan murid, teknologi pendidikan memberikan sumbangan yang sangat positif.


Adapun pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dikelompokkan ke dalam tiga fungsi, yaitu :
1.   Media Pembelajaran mandiri/klasikal, antara lain pemutaran film dan CD interaktif, pertama, pemutaran film, guru dapat memilah jenis film yang ada yaitu film yang bersifat given artinya suatu paket judul film yang telah tersedia dan relevan dengan pembelajaran pendidikan Agama Islam.  Kedua, penggunaan CD interaktif lebih”Maju” dari pemutaran film, karena siswa dapat melakukan ”interaksi”  atau perlakuan terahdap program  yang ditawarkan pada CD, misalnya CD interaktif soal-jawab Pendidikan Agama Islam dikemas dalam bentuk permainan seperti dalam ”Who want to Be Millionare”. Madrasah/sekolah dalam hal ini guru Pendidikan Agama Islam harus memiliki koleksi film atau CD
interaktif yang terkait dengan materi Pendidikan Agama Islam interaktif yang terkait dengan materi Pendidikan Agama Islam sesuai kurikulum yang berlaku          
2.  Teknologi Informasi yang dimanfaatkan untuk alat bantu pembelajaran yaitu, pemanfaatan softwere (komputer) untuk pemeblajarn Pendidikan Agama Islam. Beberapa contoh software pendidikan yang dikelan diantaranya; Computer Assisted Instruction (CAI) yang umumnya software ini sangat baik untuk keperluan remidial. Intelligent computer assited learning (ICAL), dapat digunakan untuk material atau konsep. Computer Assisted Training (CAT), Computer Assisted Design (CAD), Computer  Assisted Media (CAM) dan sebagainya. 
3.   Teknologi Informasi yang terkait sebagai sumber belajar (learning resurces) dalam bentuk internet dengan segala komponennya. Materi yang ditampilkan dalam sebauh eb yang terkait denagn pendidian Agama Islam dapat dilacak terlebih dahulu oleh guru dan dipraktekkan langsung oleh murid. Maksud pelacakan oleh guru agar materi atau informasinya relevan dengan tujuan kurikuler PAI.
Dalam prakteknya, yakni kegiatan pembelajaran, teknologi juga dapat memberikan warna dan manfaat dalam pengembangan pendidikan agama Islam. Karena banyak varian yang digunakan baik berupa teori belajar, memilih kurikulum, memilih media dan sebagainya. Media sering dikaitkan dengan kata teknologi. Teknologi merupakan perluasan konsep tentang media, dimana teknologi bukan sekadar benda, alat, bahan atau perkakas, tetapi tersimpul pula sikap, perbuatan, organisasi dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan ilmu.
      Oleh karenanya, dalam kegiatan pembelajaran agama Islam perlu menggunakan dan memaksimalkan media pembelajaran yang dapat menunjang terhadap pengembangan pendidikan agama Islam itu sendiri. Mulai dari pendidik yang harus memahami tentang agama, materi yang disampaikan, media yang digunakan maupun lingkungan yang ada harus dapat mengembangkan pendidikan agama Islam.
      Dalam hal ini, teknologi sangatlah memberi manfaat besar, yakni mempermudah siswa dalam menerima pelajaran. Disadari atau tidak, dengan adanya teknologi atau media dalam kegiatan pembelajaran siswa akan lebih tertarik jika dibandingkan dengan tidak menggunakan teknologi atau media. Akan tetapi jika pendidik tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, semisal tidak bisa menggunakan atau gagap teknologi, maka itu akan memberi kesan tersendiri terhadap dirinya.
Manfaat lain dari penggunaan teknologi dalam pembelajaran antara lain:
1.      Media teknologi pendidikan membuat pendidikan lebih produktif.
2.      Media pendidikan membuat kegiatan pengajaran lebih ilmiah.
3.      Media teknologi pendidikan dapat membuat pengajaran lebih powerful.
4.      Media pendidikan dapat membuat kegiatan belajar mengajar lebih langsung.
5.      Media teknologi pendidikan dapat membuat percepatan pendidikan lebih sebanding.
6.      Meningkatkan mutu pendidikan dengan jalan mempercepat pengetahuan (rate of learning).
7.      Memberikan penyajian pendidikan lebih luas.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Teknologi pendidikan merupakan  studi dan praktek etis yang memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja dengan membuat, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang memadai. Dalam penggunaan teknologi dalam pembelajaran perlu adanya pengelolaan yang efektif dan efisien. Pengelolaan teknologi pendidikan mencakup 4 kawasan yaitu : Pengelolaan Proyek, Pengelolaan sumber, Pengelolaan kinerja orang dan Pengelolaan Program. Dalam pelaksanaan pengelolaan peran manajer sangat berpengaruh terutama pada saat evaluasi. Adanya kegiatan evaluasi dapat diperoleh laporan kemajuan dan identifikasi masalah saat pengelolaan sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat saat proses perencanaan selanjutnya.
Teknologi dan pendidikan merupakan dua elemen yang memiliki peranan penting dalam pengembangan dan peningkatan kepribadian seseorang. Penggunaan teknologi atau media dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan pelajaran yang disampaikan agar hasil yang diperoleh maksimal. Di samping itu, juga disesuaikan dengan kemampuan peserta didiknya. Peran teknologi dalam pengembangan kemampuan anak didik cukup signifikan sehingga menunut pendidik agar mampu menggunakan teknologi dengan baik, karena dengan teknologi penyapaian materi akan lebih variatif dan kegiatan akan semakin menarik. Dalam mengembangkan pendidikan agama Islam, perlu memperhatikan kebijakan yang kemudian diterjemahkan ke dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga kegiatan pembelajaran berjalan sebagaimana yang diamanahkan.
B.     Saran
Untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan seorang pendidik harus mampu mengelola dan menerapkan teknologi pendidikan dalam pembelajaran dikelas. Pendidik harus mampu memanfaatkan teknologi pendidikan dengan efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Seels, B. & Richey, R. (1994). Teknologi Pembelajaran. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
Januszewski, A. & Molenda, M. (2008). Educational Technology. London : Lawrence Elbraum Associates.
http://datafilecom.blogspot.co.id/2010/11/aplikasi-teknologi-informasi-terhadap.html